Bagaimana Arti Rasa Syukur yang Sesungguhnya

Terkadang, kita lupa untuk bersyukur.

Untuk setiap nafas yang masih diberi.
Untuk setiap detak jantung yang masih berdenyut.
Untuk setiap cahaya yang masih bisa terlihat.
Untuk setiap langkah kaki yang masih bisa bergerak.

Hal-hal terpenting yang terkadang terabaikan karena anggapan harta benda adalah nikmat yang terpenting dalam kehidupan.

Terkadang, kita pun tak tau arti bersyukur.

Ibadah yang kasat mata, sholat, zakat / shodaqoh, puasa, sering kali dianggap sebagai wujud rasa syukur yang paling utama kepada Tuhan. Yang tanpa disadari, ibadah itu hanya sekedar kamuflase.

Sholat, terkadang hanya untuk dianggap sholeh/sholeha, namun penyakit hati, iri, dengki, hasut, dendam, tak mampu dibelenggu melalui sholat yang setiap waktu dilaksanakan. Makna sholat, pun terkadang lebih dianggap sebagai sebuah kewajiban yang terkesan "yang penting sudah dikerjakan".

Zakat/Shodaqoh, terkadang hanya untuk dianggap mampu, dermawan, yang paling miris jika dilakukan untuk sekedar menunjukkan diri agar dianggap lebih mulia dari yang lain.

Puasa, tak jarang hanya menjadi ibadah yang sekedar menahan lapar dan dahaga. Penyakit hati yang seharusnya bisa dikendalikan dan dibelenggu, masih saja tak terkendali.

Lalu, seperti apa bentuk rasa syukur yang sebenarnya?

Mungkin saja, rasa syukur itu bisa tersirat dari bagaimana hati merespon perilaku dan lingkungan.

Ketika kita, tidak merasa iri oleh kelebihan yang dimiliki orang lain. 
Ketika kita, tidak merasa kekurangan meski dalam keadaan yang masih terpuruk, masih dibawah, miskin harta.
Ketika kita, tidak merasa menggebu-gebu untuk mendapatkan sesuatu.

Mungkin saja seperti itu.

Hanya sang pencipta yang lebih mengetahui definisi paling tepat untuk perwujudan rasa syukur setiap hamba-Nya. 

Dunia ini hanya tempat bersenda gurau. Menilai kelakuan para makhluk duniawi, termasuk diri sendiri. Lalu menertawakannya, bahkan mungkin menyalahkannya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel