Menyikapi masa lalu dalam hubungan pernikahan


Setiap orang, pasti pernah mempunyai masa lalu. Baik yang terkait kehidupan sosialnya, perekonomian, maupun yang berkaitan dengan hubungan asmaranya.

Masa lalu, bisa menjadi sesuatu yang berfungsi sebagai refleksi kehidupan yang akan menjadi introspeksi untuk perubahan di masa depan. Juga bisa diangap sebagai kenangan yang berkesan, tak jarang sulit dilupakan karena keistimewaannya. Penekanan Masa Lalu yang akan saya bahas dalam tulisan ini berkaitan dengan hubungan asmara sebelum pernikahan.

Sebelum menikah, tentunya kebanyakan orang saat ini pasti pernah menjalin hubungan bernama pacaran, yang terkadang tak cuma sekali, namun beberapa kali, dengan orang yang bisa jadi berbeda. Tak jarang, hubungan dengan orang lain di masa lalu itu, menjadi batu sandungan dalam hubungan pernikahan. Kenangan yang kembali muncul setelah menikah, sering kali membuat seseorang merasa hubungan yang dulu lebih baik dari hubungan pernikahan yang sedang dijalani. Akan tetapi, tak sedikit pula orang yang dapat menjaga perasaannya, mampu mempertahankan keharmonisan dalam hubungan pernikahannya, dan justru masih bisa berhubungan baik dengan pasangan di masa lalunya dalam hubungan persahabatan.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hubungan pernikahan ketika kenangan masa lalu kembali muncul. Kepercayaan terhadap pasangan, kondisi psikologis, dan kondisi rumah tangga adalah beberapa faktor yang bisa dikatakan sebagai faktor utama yang paling berpengaruh.

Kepercayaan terhadap pasangan yang besar, akan membuatnya merasa dihormati, dihargai dan dimengerti. Hal itu akan membuat pasangan merasa nyaman dan balik memberikan kepercayaan yang sama. Komitmen untuk saling menjaga kepercayaan yang telah diberikan pun akan menjadi pegangan dalam menyikapi masa lalu yang berkemungkinan kembali hadir ditengah hubungan berumah tangga.

Saya ingin sedikit bercerita tentang kejadian yang belum lama ini saya alami. Beberapa hari yang lalu, saya sempat berbincang dengan salah seorang teman, yang merupakan seseorang yang cukup berarti di masa lalu saya, melalui chat Whatsapp. Dalam percakapan itu, saya memberinya sebuah pemahaman bagaimana saya menjalani kehidupan berumahtangga dengan istri. Tentunya, saya memakai sudut pandang saya sebagai seorang suami.

Pembahasan bermula dari kekhawatirannya yang agak berlebihan ketika dalam percakapan tersebut kami sedikit membahas tentang kisah masa lalu kami. Ia khawatir, kenangan dimasa lalu yang kami bahas akan berdampak pada keadaan rumah tangga saya. Ia terlalu khawatir dianggap sebagai perusak rumah tangga orang, jika istri saya tahu bahwa saya masih berhubungan dengannya, bahkan membicarakan kenangan di masa lalu kami.

Pada akhirnya, saya memberikan sebuah penjelasan padanya, bahwa yang dibutuhkan dalam hubungan pernikahan adalah kepercayaan pada pasangan. 

"Kamu tidak mungkin bisa membatasi perasaan orang lain, termasuk pasanganmu. Kamu tidak mungkin bisa memaksakan dia untuk menghilangkan kenangan di masalalunya, bahkan perasaannya pada orang lain. Yang harus kamu tanamkan adalah kepercayaan pada pasanganmu.

Pernikahan tidak seperti hubungan pacaran, yang bisa dengan mudahnya memutuskan hubungan dengan pasangan. Pernikahan itu janji seumur hidup, berikan kepercayaan itu pada suamimu kelak, bahwa apa pun yang terjadi, walaupun itu masa lalunya, tidak akan membuatnya meninggalkanmu.

Perasaannya pada beberapa orang di masa lalu, mungkin masih tetap sama, bedanya ia seharusnya tak lagi berharap pada mereka. Sedekat apapun hubungannya dengan orang lain, tak akan mempengaruhi hubungan pernikahan yang sudah dijalani. Karena ia sudah memilih dengan siapa ia menjalani hidup berumah tangga."

Penjelasan seperti itu juga yang selalu saya sampaikan pada istri, ketika saya menceritakan tentang kenangan di masa lalu dengan orang lain. Keterbukaan pada pasangan, saya yakini sebagai bentuk apresiasi atas kepercayaan yang telah ia berikan.

Faktor kedua, yang bisa mempengaruhi hubungan penikahan adalah kondisi psikologis seseorang. Kondisi tersebut biasanya terpengaruh oleh trauma di masa lalu. Seringnya dikecewakan oleh orang lain, terlebih dikhianati, membuat seseorang terkadang bersifat cukup protektif terhadap pasangan. Hal tersebut berakibat pada minimnya kepercayaan terhadap pasangan, dimana justru akan berdampak pada caranya menyikapi masa lalu.

Rasa curiga yang berlebihan terhadap pasangan, akan membuatnya merasa terkekang dan dibatasi. Tak jarang, munculnya keretakan dalam rumah tangga disebabkan oleh sikap over protektif yang ditunjukkan, terlebih saat masa lalu itu kembali hadir.

Terkadang bersikap protektif terhadap pasangan memang perlu dilakukan, ketika ia tak bisa lagi menjaga kepercayaan yang telah diberikan. Namun, yang perlu dipertimbangkan kembali oleh pasangan yang merasa dikhianati, adalah keutuhan rumahtangganya. Perbedaan karakter setiap orang, memang perlu dihadapi dengan perlakuan yang juga berbeda dalam hal menjaga keutuhan hubungan pernikahan.

Kepercayaan terhadap pasangan dan keadaan psikologis, pada akhirnya akan menjadi penentu kondisi rumah tangga. 

Rumah tangga yang tenteram akan tercipta dari kepercayaan yang selalu dijaga dan dipertahankan. Seindah dan sebaik apa pun kenangan di masa lalu, tak akan berpengaruh terhadap keutuhan rumah tangga. Justru hubungan silaturahmi dengan pihak-pihak di masa lalu, bisa tetap berlanjut dengan hubungan yang lebih baik.

Sebaliknya, rumah tangga yang kurang harmonis sering kali terjadi sebagai akibat dari kondisi psikologis yang disebabkan oleh trauma masa lalu ataupun penghianatan. Kepercayaan yang minim atau tak terjaga, tak jarang, dapat berujung pada rusaknya hubungan pernikahan yang sudah dijalani. Kondisi rumah tangga yang tak harmonis, pada akhirnya akan menjadi salah satu alasan hadirnya kembali masa lalu yang dianggap lebih baik.

Sebuah Catatan, Agustino Pratama.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel