Menulis untuk Masa Depan


Sebelum era sosial media, para penulis berusaha mengungkapkan isi hatinya melalui beberapa tulisan yang kemudian ia kumpulkan menjadi sebuah buku. Ada yang menjadi kumpulan cerita, novel, maupun puisi. Satu hal utama yang dapat dijadikan kesimpulan adalah bahwa setiap yang dituliskan akan menjadi kenangan yang terabadikan sampai ke masa yang akan datang.

Tak hanya penulis, remaja jaman dulu terkadang berusaha mengungkapkan perasaan / isi hati mereka melalui sebuah tulisan di buku diary mereka. Dimana setiap hal yang pernah mereka tuliskan akan menjadi sebuah kenangan yang akan terus mengingatkan mereka pada kejadian yang pernah mereka alami.

Saya jadi teringat, dulu semasa peralihan dari SD ke SMP, saya sering menulis hal-hal yang berkesan ataupun ungkapan perasaan kedalam sebuah buku diary. Inspirasi saya adalah ketika menonton film ataupun sinetron remaja jaman dulu terkadang ada yang menampilkan adegan tokohnya yang sedang menulis ungkapan isi hati di buku diarynya. Saat saya menemukan beberapa buku diary saya di masa itu, tak dipungkiri, saya pun merasa tergelitik dengan tingkah laku saya saat itu. Beberapa tulisan, pun kembali mengingatkan saya pada satu dua kejadian yang berarti ataupun pemikiran yang hampir terabaikan.

Ada juga beberapa orang yang menuliskan isi hatinya dalam bentuk surat. Biasanya, para pasangan jaman dulu sering berkabar-kabar ataupun mengungkapkan perasaan melalui surat yang ditujukan pada pujaan hatinya. Belum berkembangnya teknologi informasi pada masa itu, menjadikan surat sebagai sarana komunikasi yang romantis. Tak jarang, adanya bumbu-bumbu berupa kata-kata puitis pada sebuah surat, menjadikan hal itu sebagai kenangan yang tak terlupakan.

Surat pun dapat menjadi sarana komunikasi dalam rangka untuk menyebarkan pemikiran seperti yang sering dilakukan oleh para cendekiawan jaman dulu. Mungkin, kita pernah mendengar bahwa buku "Habis Gelap Terbitlah Terang" merupakan buku yang dibuat dari kumpulan dan rangkuman surat-surat yang pernah ditulis oleh RA. Kartini, yang berisi beberapa pemikirannya dan dikirimkan kepada beberapa temannya. Hal tersebut dapat dijadikan contoh nyata bagaimana pengaruh beberapa tulisan dapat membawa perubahan pada kehidupan di masyarakat.

Seiring dengan perkembangan jaman, di era saat ini, media untuk menulis nyatanya lebih mudah untuk dijangkau. Dimanapun, kapanpun, setiap orang dapat menulis untuk mengungkapkan perasaan bahkan menjabarkan pemikirannya melalui gadget yang dimiliki. Tidak lagi sebatas untuk diri sendiri, tulisan mereka pun bahkan sudah bisa langsung dijangkau oleh masyarakat luas, karena adanya teknologi berbasis internet.

Menulis, bukan lagi menjadi kebiasaan ataupun profesi khusus. Karena bisa dikatakan hampir semua orang dapat menuliskan apapun dan bisa dibagikan kepada siapa pun. Tujuan menulis pun, bukan lagi sekedar untuk mengabadikan suatu kenangan untuk masa depan. Namun, dengan menulis eksistensi seseorang akan lebih dikenal. 

Ada sebuah ungkapan menarik dari seorang penulis legendaris Indonesia, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian" - Pramoedya Ananta Toer.

Mencoba menuliskan apapun yang berasal dari otak kita, pemikiran kita, harusnya bukan lagi sekedar keisengan belaka. Dengan menulis, kita pun bisa menciptakan sejarah kita sendiri.

Sebuah Catatan, Agustino Pratama

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel