Memories Of You - Bagian #1

"Klek... Klek... Klek..." bunyi suara pencetan keyboard cukup jelas terdengar ditengah keheningan ruangan yang telah sunyi. Beberapa lampu di ruangan pun telah terpadamkan sinarnya, tersisa hanya sebuah lampu berdaya rendah yang menerangiku di kegelapan.

Hampir pukul setengah dua pagi, disaat semua orang tengah terlelap dalam tidurnya, aku justru masih belum bosan berhadapan dengan layar komputer yang ada dihadapanku. Dunia maya, seakan tak pernah tertidur. Beberapa interaksi di media sosial masih bermunculan. Suara lantunan musik pun masih setia menemani aktifitasku. Sesekali, tubuhku kusandarkan pada kursi tempatku duduk untuk mengurangi rasa lelah.

"Hufth..." kucoba menghela nafas, lalu memejamkan mata.

Ku rasa, tak ada yang benar-benar mengerti apa yang sedang ku rasakan saat ini. Orang-orang disekitarku mungkin mengira tak terjadi apa-apa denganku, lebih tepatnya dengan perasaanku.

"Semua yang berlalu, tlah menjadi kenangan. Dan seakan ku lupakan, karena ku tak sejalan". Lirik lagu KMI pun mulai terdengar lirih dari speaker yang terhubung dengan komputer yang telah ku-setting urutan lagunya. Membuatku tersadar dan kembali menatap kearah layar. Entah kenapa lirik lagu itu terasa sesuai dengan apa yang sedang kupikirkan.

Kucoba menikmati iramanya dan meresapi kata demi kata dari liriknya. "Dan tak mungkin ku bertahan meski telah ku coba. Semuanya tak berguna terbuang sia-sia. Dirimu di hatiku sudah terlalu lama. Biarlah ku mencoba untuk tinggalkan semua".

Tiap lirik yang diulang, seakan memacuku untuk meresapi lebih dalam tentang perasaan seperti apa yang tersirat dalam lirik lagu itu. Dan semakin kuresapi, aku pun semakin meyakini bahwa hampir keseluruhan kata yang ada di lirik lagu itu mewakili perasaanku saat ini.

Kutelusuri beberapa file yang tersimpan dalam folderku, hingga kudapati beberapa file foto yang menggambarkan raut wajah seseorang. Seseorang yang terlihat sangat lucu, lugu, dan penuh kebahagiaan disetiap senyum yang tergambar di beberapa file fotonya. Tak terasa, aku pun melebarkan senyuman saat memperhatikannya.

Dia, pernah kuharapkan untuk menjadi bagian terpenting dalam hidupku, menjadi seseorang yang sangat berarti di hidupku. Dan dia, pernah kuharapkan untuk menjadi sumber semangatku untuk menjadi lebih baik. Tak pernah kupungkiri, bahwa aku telah memberikan tempat istimewa di hatiku untuknya. Namun, semua harapan yang pernah tertuju padanya, harus rela kulepaskan untuk menjadi sebuah kenangan.

Karena dia seakan telah memutuskan untuk tidak lagi mengenalku.

Rasa kecewa itu lah yang terus mengganggu fikiranku beberapa hari terakhir. Rasa kecewa pada diri sendiri yang tak bisa menjadi seseorang yang dia harapkan. Dan rasa kecewa padanya, yang tak menepati perkataannya untuk menjalani hubungan persahabatan, yang justru tanpa kejelasan terus berusaha menghindar dariku yang mencoba untuk memulai semua dari awal.

Di satu sisi, aku marah. Namun, disisi lain aku merasa tak ingin begitu saja melepaskannya pergi. Kedekatan yang cukup singkat, namun begitu berarti, memang tak sebanding dengan usahaku untuk terus memperjuangkannya selama beberapa tahun terakhir. Aku tau, perasaan ini hanya bertepuk sebelah tangan, dan dia tak pernah memberiku kesempatan. Entah ini suatu kebodohan atau sebuah perjuangan, tapi sampai saat ini aku masih terus bertahan.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel