Kisah yang berawal dari Media Sosial


Ketika berbicara tentang kisah beberapa pasangan yang awal pertemuannya dari media sosial, saya adalah salah satu dari banyak pasangan model itu. Perkenalan saya dengan istri, berawal saat ia menambahkan saya sebagai teman facebooknya, sekitar delapan tahun yang lalu.

Saya baru lepas dari kekecewaan pada seseorang yang pernah saya harapkan. Dan saat itu, dunia maya seakan menjadi dunia dimana saya merasa diterima. Saya mulai aktif menulis, meski beberapa tulisan saya masih berupa luapan kekecewaan yang pernah saya rasakan.

Beberapa tulisan saya, ternyata membuat istri saya, waktu itu merasa tertarik. Diakuinya, ia hampir mengikuti setiap tulisan yang saya posting di sebuah catatan facebook. Kedekatan kami pun bermula dari saling sapa dalam sebuah percakapan (chat) facebook maupun berinteraksi di timeline twitter. Dan setelah ia memberi nomor telponnya, hubungan kami berlanjut melalui chat whatsapp.

Sebenarnya, saya dan istri pernah mengenyam pendidikan di sekolah yang sama, saat SMA. Namun, kami tak pernah saling mengenal saat masih di sekolah, pasalnya ia baru masuk setelah saya lulus dari sekolah itu. Meski setelah kelulusan, saya masih sering berada di lingkungan sekolah, tapi saat itu saya masih terpaku dengan harapan pada gadis lain.

Saat berkenalan dengan saya, ia masih dalam masa pendidikan D3-nya di salah satu perguruan tinggi di Purwokerto. Kami pun memutuskan untuk bertemu saat ia pulang. Saat itu, awal mulanya ada bioskop di pekalongan dengan film yang cukup update, sehingga kami memutuskan untuk menonton sebuah film pada pertemuan pertama kami. 

Saat pertama bertemu, seperti pada umumnya seseorang yang memulai hubungan di media sosial, masih ada rasa canggung diantara kami. Ada hal-hal yang sedikit tak sesuai dengan ekspektasi ketika berhubungan di medsos. Namun pada akhirnya, setelah pertemuan itu saya pun memberanikan diri menyatakan perasaan padanya.

Tak disangka, ia menerima perasaan saya, meski dengan beberapa pertimbangan ketika saya mengharapkan sebuah hubungan yang lebih real. Salah satu yang ia sampaikan, bahwa ia masih dituntut untuk menyelesaikan pendidikannya, sehingga dalam pengakuannya ia belum diijinkan untuk pacaran. Sebuah pertimbangan yang juga pernah dikatakan oleh salah seorang gadis yang pernah menjalin hubungan dengan saya. Pada akhirnya saya menerima hal itu, meski sebenarnya saya tak berharap punya hubungan yang sembunyi-sembunyi. Jarak yang memisahkan kami, menjadi alasan saya menerima pertimbangan darinya. Dan hubungan kami terus berlanjut, meski sekedar melalui medsos dan pesan singkat (SMS).

Setelah menjalin hubungan dengannya, saya yang mulanya baru berusaha bangkit dari keterpurukan, mulai menemukan sebuah harapan. Harapan yang saat itu tak pernah terbayangkan akan menjadi kenyataan, menjadikan ia sebagai pasangan hidup.

Ada salah satu kenangan yang tak terlupakan saat kami masih berpacaran. 

Suatu ketika, saat ia pulang ke pekalongan, ia mengajak saya untuk bertemu, sekedar ingin menghabiskan waktu bersama sebelum ia berangkat kembali ke Purwokerto. Ia datang ke warnet tempat saya bekerja, dan sempat menemani saya sampai pergantian shift. Setelah itu, kami memutuskan untuk sekedar jalan-jalan kesebuah pusat perbelanjaan, tak jauh dari lokasi warnet.

Walaupun kami telah berpacaran, tak seperti pasangan yang lain, kami masih merasa canggung saat jalan berdua. Jangankan bermesraan, bergandengan tangan pun seakan masih begitu "tabu" bagi kami, mungkin hubungan jarak jauh membuat kami tak terbiasa. Meski begitu, ia tak canggung untuk bersikap manja di beberapa kesempatan.

Di pusat perbelanjaan itu, kami hanya sekedar cuci mata sambil sesekali ngobrol dan bercerita sambil berjalan disekitaran kios. Ketika melewati salah satu kios es krim, ia dengan manja mengatakan keinginannya untuk "makan es krim bareng". Namun, keadaan saya waktu itu, yang sudah sempat saya ceritakan padanya, membuat saya merasa malu karena untuk sekedar mentraktir eskrim saja, saya tak bisa. Ia yang memahami keadaan saya, akhirnya membeli eskrim untuk kami berdua dengan uangnya sendiri.

Saya yang cukup merasa malu dengan keadaan saya yang menyedihkan saat itu, membuat saya berjanji padanya untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Saya menyadari, bahwa tak mungkin saya bisa mewujudkan harapan untuk menjadikannya pasangan hidup, jika keadaan saya masih tetap sama. Bagaimana saya akan menawarkan kehidupan yang layak, jika saya sendiri masih belum bisa hidup dengan layak. 

Saya merasa sangat beruntung, karena Tuhan menakdirkan saya dapat bertemu dengannya. Sosok gadis yang mau menerima kekurangan saya, memahami keadaan saya, dan pada akhirnya memberikan dukungan serta semangat untuk saya agar terus berusaha menjadi lebih baik. Ia selalu memberikan kepercayaan, bahwa saya akan dapat mewujudkan setiap harapan kami. Ia pun tak terlalu memaksakan keadaan. Yang ia inginkan, saya tetap menjadi diri sendiri dan bisa menjalani sesuatu yang sesuai kenyamanan saya.

Semangat baru yang saya temukan dan dapatkan darinya, membuat saya berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik. Saya yang saat itu masih bekerja sebagai operator warnet, pada akhirnya mendapatkan sebuah pekerjaan baru yang bagi saya lebih baik. Berprofesi sebagai salah satu karyawan di perusahaan konsultansi sipil, menjadi sebuah peningkatan yang cukup luar biasa dalam karir saya. 

Dukungan darinya, membuat saya terus terpacu untuk menjadi lebih baik. Hingga pada akhirnya, hubungan kami pun dapat berjalan sampai ranah terbaik, jenjang pernikahan. Meski belum semua harapan yang pernah kami utarakan dapat tercapai, kami masih mampu untuk mempertahankan apa yang pernah kami mulai. Kepercayaan itu masih diberikannya, dukungan itu masih terus ditunjukkannya. Ia selalu percaya, bahwa suatu saat setiap harapan itu akan dapat terwujud.

Kisah kami, mungkin hanya salah satu dari banyak cerita tentang sebuah hubungan yang diawali dari perkenalan di media sosial. Mungkin ada banyak cerita tentang hubungan yang berakhir dengan lebih baik, meski tak jarang ada juga kisah yang mengecewakan. Tentunya, setiap kisah akan menjadi kenangan tersendiri bagi mereka yang menjalaninya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel