Ketika Persahabatan Menjadi Sebuah Alasan


Tulisan ini merupakan uraian kembali salah satu artikel yang pernah saya tulis di platform media online nasional, Kompasiana, beberapa tahun silam, sekitar tahun 2015. Tulisan yang bisa disebut sebagai ungkapan isi hati yang pernah dikecewakan seseorang. Seseorang yang mengatasnamakan persahabatan untuk menolak pernyataan cinta yang pernah saya tujukan padanya. Dan saya tergelitik untuk kembali bernostalgia dan mengulas kembali kenangan itu di blog ini.

Pada catatan tentang perjalanan hidup yang pernah saya tulis sebelumnya, saya pernah menyebut dan menceritakan tentang seorang gadis, yang pernah saya harapkan namun justru pada akhirnya membawa saya pada masa keterpurukan. Ulasan ini, adalah salah satu tulisan yang pernah saya tulis setelah dapat lepas dari kekecewaan terhadap gadis tersebut.

Artikel dengan judul yang sama dapat anda simak di Halaman Kompasiana, Ketika Persahabatan Menjadi Sebuah Alasan.

Persahabatan pada dasarnya adalah sebuah hubungan antara dua orang atau lebih, yang bukan berkaitan dengan persoalan asmara, dimana ada komitmen untuk saling percaya, saling mengerti dan saling memahami. Sebuah hubungan dimana terdapat kenyamanan dalam kebersamaan karena adanya hubungan yang saling membutuhkan dan dapat saling mengisi satu sama lain. Sahabat bisa menjadi seseorang yang selalu ada untuk kita disaat kita berada dalam suatu permasalahan, ia bisa menjadi penghibur bahkan penolong.

Namun ada kalanya, dalam hubungan persahabatan timbul suatu permasalahan yang dilematis, ketika persahabatan itu telah menimbulkan sebuah perasaan yang lebih istimewa. Persoalan terkait asmara, bisa jadi merupakan suatu ujian dalam persahabatan, dimana kedewasaan yang akan menentukan akhir ceritanya.

Tak sedikit pasangan yang pada akhirnya bersatu, memulai kisah cinta mereka dari sebuah hubungan persahabatan. Perasaan yang sama, yang saling dimiliki satu sama lain, mampu menumbuhkan rasa cinta sehingga hubungan yang lebih istimewa, bahkan lebih serius, dapat terjadi. Baik berpacaran ataupun berujung di pernikahan.

Namun, ada pula persoalan asmara yang muncul dalam sebuah persahabatan menjadi awal dari keretakan bahkan hancurnya hubungan itu. Ketika perasaan yang istimewa hanya dirasakan oleh salah satu pihak, tanpa mendapatkan balasan dari pihak yang lainnya. Atau yang lebih dikenal sebagai rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Ironis, ketika rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan pada akhirnya menjadikan hubungan persahabatan sebagai alasan sebuah penolakan. "Aku lebih nyaman jadi sahabatmu", "Lebih baik kita tetap berteman saja", atau mungkin masih banyak lagi jenis kalimat yang disampaikan untuk menolak perasaan cinta seseorang yang tak terbalaskan.

Memang, bukan suatu kesalahan jika menjadikan persahabatan sebagai alasan. Karena ada juga beberapa orang yang mengatakan alasan seperti itu, dikarenakan ia memang lebih menginginkan suatu hubungan persahabatan ketimbang hubungan istimewa (Pacaran). Meski pada akhirnya ada penolakan, namun ia masih konsekuen untuk mempertahankan hubungan persahabatan itu dengan baik.

Akan tetapi, ada pula seseorang yang setelah memberikan atau mendapatkan penolakan atas alasan persahabatan, pada akhirnya justru mulai membatasi hubungan yang sudah pernah dijalani sebelumnya. Parahnya, adalah ketika persahabatan itu pada akhirnya hancur setelah penolakan tersebut. Rasa kecewa, mungkin jadi penyebab tidak berlanjutnya hubungan persahabatan yang sebelumnya. Bisa juga, karena yang menolak tidak ingin membuat seseorang yang pernah dianggap sebagai sahabat itu terus mengharapkan hal yang istimewa darinya.

Persahabatan seharusnya memiliki unsur saling mengerti. Ketika sahabat kita sendiri menyatakan perasaannya atau ketika kita mendapat penolakan setelah menyatakan perasaan, sudah seharusnya kita bisa lebih dewasa dalam menyikapinya. Merubah sikap, menjauh, atau membatasi diri dalam hubungan bukanlah sebuah keputusan yang tepat.

Dengan menjauhi dan membatasi hubungan kita dengannya maka kita telah membunuh suatu harapan. Harapan yang mungkin pernah ada dalam suatu hubungan persahabatan, yang pada akhirnya jadi hilang bahkan hancur karena sebuah perasaan yang berbeda.
“Jika sahabatmu sendiri ternyata menyukaimu, dan ingin bersamamu kapanpun dan dimanapun, bagaimana reaksimu? Apakah kamu mau membunuh perasaannya? Dia sahabatmu! Apakah kamu mau menjaga perasaannya? Gak mungkin! Apakah kamu akan menjauhinya? Sekali lagi, DIA SAHABATMU! Kamu mau menyakiti perasaannya? Berarti kamu GAGAL menjadi SAHABATNYA!" - Shafira Audreyna.

Sebuah Quote dari seorang teman itu pernah membuat saya berfikir, bahwa seorang sahabat seharusnya bisa lebih saling mengerti. Seorang sahabat seharusnya bisa lebih dewasa dalam mempertahankan hubungan persahabatan yang telah dijalani. Jika memang tak perlu ada hubungan lain yang lebih istimewa, maka jangan menghancurkan hubungan yang sudah pernah ada.

Memulai kembali hubungan persahabatan yang pernah dijalani, rasanya memang sulit ketika hubungan itu sudah pernah terkontaminasi oleh perasaan yang berkaitan dengan asmara. Butuh waktu, bagi mereka yang pernah mengalami hal tersebut untuk mengembalikan hubungan yang sebelumnya. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel