Catatan Perjalanan Hidup 2 (Cinta)


Sebelumnya, saya pernah menceritakan tentang perjalanan hidup yang terkonsentrasi pada sisi karir yang selama ini saya jalani. Pada kesempatan kali ini, cerita perjalanan hidup yang ingin saya ceritakan adalah dari sisi perjalanan asmara yang pernah saya jalani.

Pada intinya, hidup yang berkesan adalah kehidupan yang dihiasi dengan cinta. Perjalanan hidup, sudah tentu akan lebih berwarna dengan kisah-kisah tentang asmara yang mengiringinya. Ada saat, kisah cinta itu membuat kita bersemangat, terpuruk, dan kembali bangkit.

Saya kembali teringat, kapan pertama kali saya merasa tertarik dengan seseorang. Ketika itu, saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Mungkin, terkesan cukup aneh, dimana seorang bocah usia dini sudah mempunyai perasaan terhadap lawan jenis. Yah, mungkin saja secara umum itu lah yang dinamakan cinta monyet hehe...

Tapi, bagi saya, perasaan itu bukan sekedar cinta monyet yang tak berdampak apa pun pada kehidupan saya. Ketika lulus dari sekolah dasar, perasaan terhadap teman sekelas saya itu, menjadi pemicu bagi saya untuk dapat melanjutkan pendidikan di sekolah yang sama dengannya. Itu juga yang pada akhirnya mengantarkan saya masuk ke sebuah sekolah yang pada waktu itu cukup favorit di kota Pekalongan.

Sayangnya, selama berada di sekolah favorit itu, saya tidak ditakdirkan untuk bisa satu kelas kembali dengan gadis yang menjadi alasan saya masuk ke sekolah itu. Dari kelas 1 sampai kelas 3 SMP tak pernah sekali pun saya berada satu kelas dengannya.

Awalnya, saya agak merasa kecewa, harapan untuk bisa menjadi lebih dekat lagi dengannya tak dapat saya rasakan. Lebih kecewa lagi, saat saya sempat mengetahui bahwa dia sempat berpacaran dengan temannya yang lain.

Namun, ketika menjalani keseharian di sekolah itu, saya kembali menemukan perasaan pada gadis lain yang menjadi teman satu kelas saya. "Ada Apa Dengan Cinta" rasanya adalah film yang akan selalu mengingatkan saya pada gadis itu. Sosok yang menurut saya hampir mirip dengan tokoh "Cinta" itu, membuat saya hampir melupakan perasaan pada gadis yang saya kenal sejak di sekolah dasar.

Dua kali, saya dapat merasakan berada dalam satu kelas dengannya. Dan selama itu pula, perasaan saya terhadap gadis itu terus saya pendam. Rasa tak percaya diri dan tak sebanding dengannya, membuat saya tak pernah mengungkapkan perasaan pada gadis itu.

Kali ini, perasaan saya pada gadis itu, membuat saya merasa terpacu untuk lebih meningkatkan prestasi akademis. Keinginan agar bisa diakui olehnya, membuat prestasi saya membaik tiap semester. Kebanggaan saya, adalah ketika saya mendapat penghargaan sebagai "Raja Pustaka" saat acara perpisahan sekolah. Pada waktu itu dia memberikan selamat dan mengapresiasi prestasi saya. Rasanya, tak ada hal yang lebih membahagiakan selain mendapat ucapan selamat darinya.

Prestasi terbaik pun, saya peroleh saat ujian Nasional. Berada satu ruangan dengannya, membuat saya merasa terpacu untuk dapat lulus dengan nilai yang setara dengannya. Tak sia-sia, hasil ujian saya pun mendapatkan nilai yang hampir sama dengannya. Nilai yang lebih dari cukup untuk bisa melanjutkan ke sekolah yang sama dengannya.

Sekali lagi, perasaan terhadap seorang gadis telah memberikan dampak positif untuk prestasi akademis saya. Saya pun, pada akhirnya dapat kembali masuk ke sekolah favorit di Pekalongan, sama seperti pilihannya, meski dari keluarga saya tidak begitu mendukung karena permasalahan ekonomi.

Sama seperti sebelumnya, meskipun saya bisa berada di satu sekolah dengan gadis pujaan saya, kami tak ditakdirkan bisa berada dalam satu kelas. Kecewa, sudah pasti saya rasakan saat itu.

Karena beberapa hal, prestasi saya kembali menurun. Kurangnya dukungan dari keluarga, serta beberapa permasalahan yang muncul membuat saya tidak begitu konsentrasi menata prestasi. Hampir saja saya menyerah.

Saat mulai masuk pada kelas XI, saya mulai aktif berorganisasi di sekolah. Keaktifan tersebut, sebenarnya masih dipengaruhi oleh rasa ingin menunjukkan diri agar dia mengakui keberadaanku, meskipun organisasi sekolah yang saya ikuti, bukan organisasi yang sama dengannya.

Saya masih terus memperhatikan gadis yang sama. Pernah suatu ketika, perasaan saya terhadap gadis itu mulai diketahui oleh beberapa teman sekelas dan di organisasi, hingga gadis itu pun mengetahuinya. Namun, bukan respon positif yang saya dapatkan, melainkan pengabaian.

Saya pun pada akhirnya mulai punya kedekatan dengan beberapa orang, baik di kelas maupun di organisasi. Dan saya sempat memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seorang adik kelas saya, yang merupakan rekan satu organisasi saya. Meski bukan cinta pertama, namun dia adalah pacar pertama saya yang cukup memberikan kenangan yang bisa dikatakan tak terlupakan.

Dia adalah orang pertama yang mau menerima saya apa adanya. Orang pertama yang mengistimewakan saya, dan yang peduli pada permasalahan yang sering saya hadapi. Dia tak pernah memandang kekurangan yang ada pada diri saya. Beberapa kesamaan, awalnya membuat hubungan kami semakin dekat dan kami pun berpacaran.

Namun, karena suatu hal dari saya, hubungan kami tak berlangsung lama. Saya yang pertama memutuskan hubungan kami. Dan saya pernah menganggap hal tersebut sebagai kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan.

Menyia-nyiakan seseorang yang pernah bisa mengerti dan menerima setiap kekurangan yang ada dalam diri kita, adalah sebuah kesalahan. 

Setelah putus dengan adik kelas saya, saat itu pun saya seakan tak ingin lagi peduli dengan urusan percintaan. Saya ingin kembali menata hidup, dan ingin berusaha menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Akan tetapi, harapan tersebut sedikit terganggu dengan keadaan di kelas waktu itu.

Mendekati ujian akhir nasional, prestasi yang sempat menurun membuat saya seakan sulit untuk mengejar ketertinggalan.

Diantara semua teman sekelas saya, ada dua orang yang punya kedekatan dengan saya. Salah satunya adalah Putri. Putri adalah seorang gadis yang agak tomboy. Sifatnya yang periang, bisa dikatakan menjadi satu hal darinya yang bisa membuat orang lain merasa senang ketika berada didekatnya, meski ada juga yang merasa risih.

Kedekatan saya dengan Putri, semakin akrab sejak dia berpacaran dengan teman SMP kami. Ya, saya, Putri, dan pacarnya pernah bersekolah di SMP yang sama.

Meski tak berjalan lama mereka berpacaran, kedekatan saya dengan putri pun tetap berlanjut. Dia yang terus memberi dukungan untuk saya, tetap bersahabat dengan saya meskipun terkadang beberapa teman sering mengira kedekatan kami istimewa, dia tak pernah merasa risih saat dianggap punya hubungan khusus dengan saya. Hal itu lah yang membuat saya begitu kagum dengan sosoknya.

Dia pernah mengatakan satu hal yang tak pernah bisa saya lupakan, saat pada suatu kesempatan saya pernah menyatakan bagaimana perasaan saya terhadapnya. "Aku berterima kasih loh, kamu begitu peduli dan punya perasaan seperti itu (sayang) sama aku. Tapi, mungkin lebih baik kita berteman saja. Yang namanya pacar, itu bisa putus, tapi kalau persahabatan, tak ada kata putus untuk itu. Kamu tau sendiri kan, kalau aku udah putus dengan seseorang, aku tak mau lagi punya hubungan apa-apa dengan orang itu".

Awalnya, saya merasa setelah penolakan itu, hubungan kami akan berubah. Akan tetapi, dia membuktikan semua perkataannya. Justru, setelah itu hubungan kami semakin dekat, dan saya merasa cukup nyaman dengannya meski dalam sebuah hubungan persahabatan.

Perpisahan kami adalah ketika kami lulus dari SMA. Dia yang melanjutkan ke perguruan tinggi, telah mulai awal karirnya. Dan saya yang masih berada di kota yang sama, menjalani kehidupan saya setelah masa sekolah dengan bekerja di sebuah warnet. Beberapa kali, kami masih terus berhubungan via telepon, sekedar bertukar cerita ataupun memberi kabar masing-masing. 

Meski telah lulus dari SMA, saya masih sering berkunjung ke sekolah. Hubungan saya dengan beberapa organisasi di sekolah cukup baik, sehingga dibeberapa kegiatan yang diadakan saya sering turut serta mengikutinya. Seringnya berada di sekolah, membuat saya kembali merasakan suasana nyaman di sekolah. Hal-hal yang tidak saya dapatkan selama sekolah, saya dapatkan pada waktu itu.

Saya sempat dekat dengan seorang siswi kelas X saat itu. Kedekatan yang diawali melalui media sosial yang mulai trend saat itu mempererat hubungan kami. Bahkan, setelah beberapa kali bertemu, kami pun sempat memutuskan untuk berpacaran. Gadis itu adalah pacar kedua saya. Seorang gadis yang masih lugu, yang cukup aktif dalam pergaulan baik sesama teman sekolah, senior, hingga dengan beberapa guru.

Namun, perbedaan usia dan karakter, membuat hubungan kami tidak berjalan lama. Kami berbeda prinsip.

Setelah putus dengannya, saya kembali dekat dengan beberapa gadis di sekolah itu. Namun, hubungan saya yang sebelumnya, ternyata berdampak negatif setelahnya.

Keaktifan saya di organisasi sekolah, membuat saya cukup dekat dengan beberapa siswa-siswinya. Dan ada seorang gadis yang membuat saya tertarik dan kagum dengan dirinya. Namanya Rizqi, biasa dipanggil Qiqi. Gadis lucu yang aktif, punya rasa ingin tau yang besar, mudah bergaul, penyayang, membuat setiap orang yang berada disekitarnya merasa nyaman. Beberapa kali kami sering bertemu, baik di acara organisasi maupun di luar sekolah. Kami pun sering berinteraksi melalui media sosial. Tingkahnya yang lucu dan mudah akrab, membuat saya jatuh hati dengannya. 

Namun, dampak dari putusnya hubungan saya yang sebelumnya dengan teman satu angkatannya, membuat dia berubah, secara tiba-tiba dia agak menghindar dari saya. Dan setelah itu, saya mulai merasakan perubahan yang membuat saya merasa tidak nyaman menjalani hidup.

Rizqi, telah membuat saya begitu jatuh cinta, namun sebelum perasaan saya terungkapkan, ia dengan tiba-tiba menghindar karena suatu hal yang tak pernah ia katakan.

Dia telah mengingatkan saya pada beberapa gadis yang pernah ada di kehidupan saya, dari pacar pertama saya, Putri, bahkan beberapa gadis yang pernah saya cintai dan merubah hidup saya sebelumnya. Bahkan, dia pernah mengatakan hal yang sama seperti yang pernah diungkapkan oleh Putri, bahwa persahabatan lebih baik untuk dijalani. Namun, tak pernah ia buktikan.

Keterpurukan saya setelah itu membuat saya cukup kesal dan tak ingin lagi berhubungan dengan gadis lain setelah itu. Dia sempat membuat saya begitu berharap, hingga saya terpacu untuk merubah hidup saya menjadi lebih baik, namun pada akhirnya semua yang ia tunjukkan membuat saya merasa hasil yang telah saya capai tak ada artinya.

Darinya, saya belajar lebih banyak hal dari orang-orang lain yang pernah ada di hidup saya sebelumnya. Meski pada akhirnya, hubungan kami kembali baik, namun ia tak pernah menjadi orang terpenting dalam kehidupan saya setelahnya.

Kisah percintaan saya, berakhir pada satu wanita. Seseorang yang saat ini telah menjadi pendamping hidup saya, dan menjadi ibu dari anak saya.

Saya mengenalnya setelah berhasil move on dari Qiqi. Banyak hal yang membuat saya memutuskan untuk mengakhiri perjalanan asmara dan bertahan pada satu wanita sepertinya. Hampir semua karakternya sesuai dengan apa yang saya harapkan. Hal positif yang saya dapatkan dari pacar pertama saya, pun saya dapatkan darinya. Hal-hal yang sama seperti yang pernah saya dapatkan dari Putri, pun saya dapatkan darinya. Bagi saya, dia adalah keseluruhan hal positif dari para gadis yang pernah ada di perjalanan cinta saya.

Dia adalah orang pertama yang mampu bertahan cukup lama, berpacaran selama hampir 5 tahun dengan saya. Dari belajar bagaimana menjalani hubungan jarak jauh, menjaga kehormatan, belajar menghargai kepercayaan satu sama lain, dan banyak hal yang bisa dikatakan tak pernah saya dapatkan dari wanita lain.

Dia istimewa, dan akan selalu istimewa. Dan di akhir perjalanan cinta saya, dia adalah seseorang yang sangat tepat yang telah ditakdirkan untuk saya.

Dia juga seseorang yang telah membuat saya melakukan perubahan yang cukup besar. Dari seorang operator warnet yang hampir gagal, dia telah menjadi semangat saya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Menjadi seorang civil engineering, adalah sebuah cita-cita yang saya dapatkan setelah menjalani hubungan dengannya.

Mungkin, ada satu kalimat pepatah yang bagi saya ada benarnya. "Tuhan, sudah menakdirkan orang yang tepat dan akan dipertemukan disaat yang tepat".

Semoga, ada pelajaran yang dapat dipetik dari catatan ini.

Sebuah Catatan, Agustino Pratama

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel