Belilah Sesuatu Disaat Kamu Mampu, Bukan Disaat Kamu Mau


Belum lama ini, saya menonton sebuah video di timeline teman facebook saya. Video tersebut menyajikan sebuah narasi singkat yang disampaikan oleh seorang penulis sekaligus motivator ternama di Indonesia, Merry Riana. Narasinya menarik, apa lagi disampaikan dengan pembawaan yang mengena pada penontonnya.

Saya tidak tau pasti apa judul video ataupun judul narasi yang dibawakan, yang membuat saya tertarik untuk menyimak video tersebut adalah tiap kalimat yang disampaikan. "Beli lah sesuatu disaat kamu mampu, bukan disaat kamu mau". Dan tulisan saya kali ini mungkin akan lebih saya konsentrasikan pada kalimat tersebut.

Dalam menjalani keseharian, setiap orang tidak akan pernah lepas dari yang namanya kebutuhan hidup, baik itu kebutuhan primer, sekunder maupun tersier. Setiap orang pun, punya kebutuhan yang berbeda satu sama lain. Dan untuk memenuhi kebutuhan itu lah, tujuan setiap orang bekerja.

Kebutuhan primer, tentunya menjadi yang utama, dimana pangan, sandang dan papan adalah kebutuhan yang sangat penting untuk diprioritaskan. Kebutuhan sekunder, menjadi kebutuhan yang berada di prioritas kedua, dimana kebutuhan yang bersifat "fasilitas" cukup dibutuhkan setelah yang primer bisa terpenuhi. Sedangkan kebutuhan tersier, merupakan kebutuhan yang bersifat mewah, yang seharusnya baru dapat dipenuhi setelah kebutuhan lainnya.

Namun, seiring berkembangnya jaman, jangkauan kebutuhan pun semakin luas. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya profesi, status sosial, bisa pula lingkungan pergaulan seseorang. Pada akhirnya, kategori kebutuhan semakin samar. Tak ada lagi yang membedakan antara primer, sekunder maupun tersier. Semua kebutuhan terkesan sudah menjadi sesuatu yang harus dipenuhi/diprioritaskan. Fenomena tersebut pun berdampak pada kondisi perekonomian, dimana saat ini semua kebutuhan terasa sulit dipenuhi. Tidak adanya pengkategorian kebutuhan, membuat seseorang merasa perlu untuk mendapatkan apa saja yang ia inginkan, yang terkadang tidak mempertimbangkan kemampuan finansialnya.

Gaya hidup yang tak terkendali, ditambah dengan gengsi, tidak ingin kalah dengan orang lain, membuat seseorang terkadang tidak dapat mengendalikan diri untuk mendapatkan sesuatu diluar kemampuannya. Cara apa pun dilakukan demi mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Dan resiko justru dijadikan sebagai pertimbangan terakhir, bahkan terabaikan.

Tidak sedikit orang yang justru harus rela kehilangan sesuatu yang sudah dimiliki untuk mendapatkan hal lain. Misal, seseorang rela menjual hartanya (tanah) untuk membeli mobil. Yang lebih ringan, seseorang menggadaikan sertifikat tanah atau rumah, sebagai jaminan hutang demi membeli sesuatu yang diinginkan. Demi mewujudkan keinginan, ia rela mempertaruhkan apa yang sudah dimiliki, meski dengan resiko kehilangan.

Adanya program kredit / cicilan, pun menjadi salah satu cara untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Program tersebut terkesan mempermudah seseorang untuk mewujudkan keinginan, namun, resikonya ia harus rela menyisihkan sebagian atau bahkan semua pendapatan per-bulannya untuk membayar cicilan. Tak jarang hal tersebut berdampak pada sulitnya pemenuhan kebutuhan yang lebih primer.

Pemenuhan kebutuhan yang dipaksakan, pada akhirnya menjadi faktor yang memberatkan diri sendiri.

"Beli lah sesuatu disaat kamu mampu, bukan disaat kamu mau". Kalimat tersebut seharusnya dapat dijadikan sebagai introspeksi, betapa pentingnya mengkategorikan tiap kebutuhan sesuai dengan urgensi atau prioritasnya. Pertimbangkan kembali kebutuhan mana yang lebih penting untuk dipenuhi, dan yang sesuai dengan kemampuan.

Jika belum ada kemampuan, sisihkan dulu kebutuhan yang bersifat sekunder maupun tersier, sambil tetap mengusahakannya. Berusaha meningkatkan penghasilan terlebih dahulu, lalu menabung, merupakan upaya untuk merencanakan pemenuhan kebutuhan kedepan yang lebih baik. Meski terkadang, cara tersebut dianggap tidak efektif untuk sebagian orang, namun cara tersebut adalah yang lebih tepat dalam upaya memenuhi kebutuhan.

Sebuah catatan, Agustino Pratama.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel